Tuesday, 21 June 2016

KEUTAMAAN ZIARAH KUBUR HARI JUMAAT

HADIS LEMAH DAN PALSU TENTANG KEUTAMAAN ZIARAH KUBUR ORANG TUA DAN KELUARGA PADA HARI JUMAAT

Oleh
Ustaz Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc

Ziarah kubur merupakan salah satu ibadah yang disyariatkan dalam agama Islam. Kerana  ia mempunyai hikmah, keutamaan dan manfaat bagi orang yang berziarah maupun orang mati yang diziarahi.

Hikmah disyariatkannya ziarah kubur sebagaimana disebutkan di dalam hadis-hadis sahîh ialah:
- Untuk mengucapkan salam dan mendoakan kebaikan serta memohon ampunan kepada Allâh bagi orang mati dari kaum Muslimin, agar mereka dibebaskan dari siksa kubur, dan diberi nikmat di dalam kubur.
- Untuk mengingat kematian dan kehidupan akhirat, sehingga tidak terlena dengan gemerlapnya kehidupan dunia yang fana.
- Dalam rangka melunakkan hati yang keras dan memadamkan kesombongan diri, dan lain sebagainya.

Manfaat dan hikmah tersebut dapat diperoleh oleh seorang Muslim bila saja dia berkeinginan melakukan ziarah kubur tanpa mengkhususkan hari dan kesempatan tertentu, dan di kuburan siapa saja dari kubur kaum muslimin.

Asalkan tidak melakukan pelanggaran-pelanggaran terhadap tuntunan Islam dalam berziarah kubur, seperti melakukan perjalanan yang jauh ke pekuburan yang jauh dari tempat tinggalnya.  Atau melakukan ritual seperti membaca al-Qurân, solat, zikir berjamaah dan selainnya dalam rangka mencari berkah.

Meskipun sudah sedemikian jelas dan sempurna tuntunan agama Islam dalam ziarah kubur, namun masih ada sebagian kaum Muslimin yang berbuat kesalahan dan pelanggaran terhadap tuntunan tersebut.

Ini tiada lain disebabkan oleh kebodohan (ketidaktahuan) mereka tentang ajaran agama Islam yang benar dan murni, dan banyaknya para jurudakwah yang mengajarkan kesesatan dan kebatilan kepada pengikut dan jamaahnya sehingga kebanyakan mereka tidak sedar bahawa ziarah kubur dan amal ibadah yang mereka lakukan itu sangat bertentangan dengan ajaran Nabi Muhammad SAW.

Di antara hadis lemah dan palsu yang tersebar di tengah kaum Muslimin ialah hadis yang menjelaskan keutamaan menziarahi kubur orang tua atau kerabat pada hari dan malam Jumaat yang katanya memiliki keutamaan-keutamaan: 
- Berziarah ke kubur orang tua pada hari Jumat lalu membaca surat Yasin di sisinya akan menghapuskan dosa-dosa.
- Siapa yang melakukannya akan dianggap sebagai anak yang berbakti pada kedua orang tuanya.
- Siapa yang banyak menziarahi kuburan kedua orang tuanya atau kerabatnya hingga meninggal dunia, maka kuburannya akan diziarahi oleh para malaikat.
- Siapa yang melakukannya akan memperoleh pahala umrah atau haji mabrur.

Ulasan ulama berkaitan dengan hadis berkenaan.

HADIS PERTAMA:

Abu Ahmad Ibnu ‘Adi rahimahullah berkata, “Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin adh-Dhahhâk bin ‘Amr bin Abi ‘Ashim, ia berkata, ‘Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Khâlid al-Ashbahâni, ia berkata, ‘Telah menceritakan kepada kami ‘Amr bin Ziyâd, ia berkata, ‘Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sulaim ath-Thâifi, dari Hisyâm bin ‘Urwah, dari ayahnya, dari ‘Aisyah, dari Abu Bakar ash-Shiddîq Radhiyallahu anhu , ia berkata: “Aku pernah mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa yang berziarah ke kuburan kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya pada hari jum’at, lalu ia membaca surat Yasin maka (dosa-dosanya) akan diampuni (oleh Allâh, pent).”
‘Hadits’ ini diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adi dalam al-Kâmil Fî Dhu’afâ ar-Rijâl V/151.

HADIS KEDUA:

Abu asy-Syaikh al-Ashbahâni rahimahullah berkata, “Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Ali bin Ibrâhîm, ia berkata, ‘Telah menceritakan kepada kami Abu Mas’ûd, Yazîd bin Khâlid, ia berkata, ‘Telah menceritakan kepada kami ‘Amr bin Ziyâd al-Baqqâli al-Khurasâni di Jundisabur, ia berkata, ‘Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sulaimân, dari Hisyâm bin ‘Urwah, dari ayahnya, dari ‘Aisyah, dari Abu Bakar, ia berkata, ‘Aku pernah mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa yang menziarahi kuburan kedua orangtuanya atau salah satu dari keduanya pada setiap hari Jum’at, lalu ia membaca surat Yasin di sisi (kuburan) keduanya atau salah satunya, niscaya (dosa-dosanya) diampuni sebanyak bilangan ayat atau huruf (yang dibacanya, pent).”

‘Hadits’ ini diriwayatkan oleh Abu asy-Syaikh al-Ashbahâni dalam Thabaqât al-Muhadditsîn III/125 no.751).

Kedudukan hadis pertama dan kedua.
Hadis-hadis tersebut di atas kedudukannya (maudhu’, PALSU). Kerana dalam sanadnya terdapat seorang perawi yang bernama ‘Amr bin Ziyâd. Dia seorang perawi yang pendusta dan pemalsu hadis.

Imam Abu Ahmad Ibnu ‘Adi rahimahullah berkata, “Hadis dengan sanad ini kedudukannya  BATIL, TIDAK ADA ASAL-USULNYA. Dan ‘Amr bin Ziyâd meriwayatkan beberapa hadis selain hadits ini. Di antaranya ada hadis yang ia curi dari para perawi yang terpercaya, dan ada pula hadis-hadis palsu. Dan dialah orang yang tertuduh memalsukannya.” (Lihat al-Kâmil Fî Dhu’afâ ar-Rijâl V/151).

Imam ad-Dâruquthni rahimahullah berkata, “Dia memalsukan hadis.” (Lihat Mizân al-I’tidâl karya adz-Dzahabi III/261).

Imam Abu Zur’ah ar-Râzi rahimahullah berkata, ”Dia seorang pendusta.” (Lihat adh-Dhu’âfa’ karya al-‘Uqaili III/274).

HADIS KETIGA:

Imam ath-Thabrâni rahimahullah berkata, “Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muhammad bin an-Nu’mân bin asy-Syibl, ia berkata, ‘Telah menceritakan kepadaku ayahku, ia berkata, ‘Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin an-Nu’mân bin ‘Abdurrahmân (paman ayahku), dari Yahya bin al-‘Alâ’ ar-Râzi, dari ‘Abdul Karîm Abu Umayyah, dari Mujâhid, dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa yang menziarahi kuburan kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya setiap hari Jumaat, niscaya akan diampuni baginya dan dicatat sebagai bakti (kepada keduanya).”

‘Hadis’ ini diriwayatkan oleh ath-Thabrâni di dalam al-Mu’jam al-Ausath VI/175 no.6114, dan al-Mu’jam ash-Shaghîr II/160 no.955. dan diriwayatkan pula oleh as-Suyûthi dalam al-La’âli’ al-Mashnû’ah fî al-Ahâdîts al-Maudhû’ah II/440 no.2526, dan lainnya.

Kedudukan hadis:

Hadis ini kedudukannya (maudhû’, PALSU), sebagaimana dinyatakan oleh Syaikh al-Albâni dalam as-Silsilah adh-Dha’îfah I/125 no.49. Hal ini kerana di dalam sanadnya terdapat empat orang perawi hadis yang bermasalah, yaitu:

1. Muhammad bin Muhammad bin an-Nu’mân.  Ia seorang perawi yang ditinggalkan riwayat hadisnya dan tertuduh sebagai pemalsu hadis.

Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata tentangnya, “Ad-Dâruquthni telah mencela dan menuduhnya sebagai pemalsu hadis.” (Lihat Mîzân al-I’tidâl IV/26).

Al-Hâfizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Dia seorang perawi yang matrûk (ditinggalkan riwayat hadisnya).” (Lihat Taqrîb at-Tahdzîb I/505).

2. Muhammad bin an-Nu’mân - Seorang perawi yang tidak dikenal jati diri dan kredibilinya.

Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata tentangnya, “Ia seorang perawi yang majhûl (tidak dikenal jati diri dan kredibilitasnya).” (Lihat Mîzân al-I’tidâl IV/56).

Imam al-‘Uqaili rahimahullah berkata, “Muhammad bin an-Nu’mân seorang perawi yang majhûl (tidak dikenal jati diri dan kredibilitasnya).” (Lihat adh-Dhu’afâ’ IV/146).

3. Yahya bin al-‘Alâ` ar-Râzi (al-Bajali) - Seorang perawi yang sangat lemah kerana tertuduh memalsukan hadis dan riwayatnya tidak dapat diterima dan dijadikan hujah.

Imam al-‘Uqaili rahimahullah berkata tentangnya, “Yahya adalah seorang perawi yang matrûk (ditinggalkan riwayatnya).” (Lihat adh-Dhu’afâ` IV/146).

Imam Yahya bin Ma’în rahimahullah berkata, “Yahya bin al-‘Alâ` bukan seorang perawi hadits yang tsiqah (terpercaya).” (Lihat adh-Dhu’afâ` al-‘Uqaili IV/437).

Sementara itu, Imam Abu Hâtim ar-Râzi rahimahullah berkata, “Dia bukan seorang perawi hadis yang kuat hafalannya.”

Imam ad-Dâruquthni berkata, “Dia seorang perawi yang matrûk (ditinggalkan riwayat hadisnya).”

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata, “Dia pernah memalsukan hadis.” (Lihat semua komentar ini dalam Mîzân al-I’tidâl karya Imam adz-Dzahabi IV/397).

Imam Ibnu Hibbân rahimahullah berkata: “Tidak boleh berhujjah dengan (hadits)nya.” (al-Majruhîn III/115).

Al-Hâfizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Dia seorang perawi yang tertuduh memalsukan hadits.” (Lihat Taqrîb at-Tahdzîb I/595).

4. ‘Abdul Karîm Abu Umayyah.  Seorang perawi yang dha’îf (lemah).

Imam Ibnu Hibbân rahimahullah berkata tentangnya: “Dia seorang perawi yang sering lupa dan banyak kesalahan yang fatal dalam meriwayatkan hadits.” (al-Majruhîn II/145).

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata, “’Abdul Karîm Abu Umayyah tidak ada apa-apanya, dia menyerupai perawi yang matrûk (ditinggalkan riwayatnya).” (al-Jarhu wa at-Ta’dîl karya Ibnu Abu Hatim VI/60).

Imam Yahya bin Ma’în rahimahullah berkata, “Abdul Karîm Abu Umayyah tidak ada apa-apanya.” Imam Ayyûb as-Sakhtiyâni rahimahullah berkata, “Dia bukan seorang perawi yang tsiqah (terpercaya).” (al-Majruhîn II/145).

HADIS KEEMPAT:

Abu Ahmad Ibnu ‘Adi rahimahullah berkata, “Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hafsh as-Sa’di, ia berkata, ‘Telah menceritakan kepada kami Ibrâhîm bin Musa al-Wazduli’, ia berkata, ‘Telah menceritakan kepada kami Khâqân bin al-Ahtam as-Sa’di’, ia berkata; ‘Telah menceritakan kepada kami Abu Muqâtil as-Samarqandi, dari ‘Ubaidillâh, dari Nâfi’, dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma , ia berkata, ‘ Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa menziarahi kubur ayahnya atau ibunya, atau saudara perempuan ayah atau ibunya (bibinya), atau salah seorang kerabatnya, maka ia akan memperoleh pahala haji mabrur. Dan barangsiapa menziarahi kubur kedua orang tuanya hingga ia meninggal dunia, niscaya para malaikat akan menziarahi kuburannya.”

‘Hadits’ ini diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adi dalam kitab al-Kâmil fî Dhu’afâ ar-Rijâl II/393 no.2260, Ibnul Jauzi dalam kitab al-Maudhû’ât III/240 no.1714, dan as-Suyûthi dalam al-La’âli’ al-Mashnû’ah fî al-Ahâdîts al-Maudhî’ah II/440 no.2527, dan lainnya.

Kedudukan Hadis.
Hadis ini kedudukannya sangat lemah, kerana pada sanadnya ada seorang perawi bernama Abu Muqâtil as-Samarqandi (Hafsh bin Salm). Dia seorang perawi yang matrûk (ditinggalkan riwayat hadisnya).

Imam Ibnu Hibbân rahimahullah berkata tentangnya, “Abu Muqâtil as-Samarqandi, namanya Hafsh bin Salm, ia seorang yang rajin ibadah, akan tetapi meriwayatkan hadis-hadis mungkar yang mana (ulama hadis) siapa pun yang mencatat hadis dapat mengetahui bahawa hadis-hadis yang diriwayatkannya tidak mempunyai dasar yang dapat dijadikan rujukan.”

Imam ‘Abdurrahmân bin Mahdi rahimahullah berkata, “Tidak boleh meriwayatkan hadis darinya.” (Lihat al-Majruhîn I/256)

Imam adz-Dzahabi berkata, “Qutaibah menganggapnya sebagai perawi hadis yang sangat lemah, dan (Abdurrahman) bin Mahdi mendustakannya.” (Lihat Mîzân al-I’tidâl I/557)

Al-Hâfizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Waki’ (bin al-Jarrâh al-Kûfi, pent) mendustakannya, dan as-Sulaimâni mengatakan, bahwa dia termasuk dalam barisan orang yang memalsukan hadits.” (Lihat Tahdzîb At-Tahdzîb II/342). Wallâhu a’lam.

Semoga Allâh Azza wa Jalla senantiasa membimbing kita semua ke jalan yang benar dan diridhai-Nya, dan memberikan kepada kita taufiq dan kemudahan untuk tetap istiqamah dalam mempelajari dan mengamalkan ajaran-ajaran-Nya yang bersumber dari al-Qurân dan Hadis yang shahîh hingga maut menjemput kita.

Semoga artikel ini menjadi tambahan ilmu yang bermanfaat bagi penulis dan pembaca.

--------------------------


No comments:

Post a Comment