Tuesday, 21 June 2016

USAHA LAKU KEBAIKAN

Yusof Qaradhawi berkata: “Mensia-siakan waktu, walaupun hanya sedetik sekalipun, sama halnya dengan mensia-siakan kehidupan.  Bagi seseorang Muslim sedetik saja dia tidak dapat memanfaatkan waktunya, maka akan kehilangan sebahagian daripada kehidupannya.”

Ungkapan itu jelas menunjukkan kepada kita betapa perlunya setiap individu meningkatkan usaha dan nilai kehidupan setiap masa, sehari demi sehari dan setahun demi setahun sehinggalah meninggal dunia.  Setiap detik kehidupan memerlukan hijrah atau perubahan ke arah kebaikan yang tidak terhenti-henti.

Masa untuk berubah tidak kira waktu.  Setiap perkara buruk perlu digantikan kebaikan dengan segera.  Mana yang baik dikekalkan atau ditambahkan lagi.  Inilah yang dimaksudkan hijrah perlu dilakukan sepanjang masa. Jika kita bertangguh bermakna akan ada kebaikan yang dicapai berkurangan berbanding sepatutnya atau keburukan akan terus berlaku hingga menambahkan lagi kerugian.   

Namun begitu, kita tentu lebih teruja untuk melakukan perubahan setiap kali masuk tahun baru.  Mungkin perubahan itu melibatkan sesuatu azam yang lebih besar dan khusus.  Perkara ini tidak salah sekiranya untuk tujuan kebaikan.  Menjadikan sambutan tahun baru atau awal tahun sebagai pencetus semangat memang digalakkan.

Sesungguhnya, kita harus menerima hakikat bahawa kita telah memasuki satu tempoh masa baru yang memerlukan semangat, iltizam dan cita-cita untuk menghadapinya.  Hanya orang yang tabah dapat menghadapi setiap cabaran hidup dengan baik. Hidup adalah perlumbaan untuk merebut peluang yang ada yang akan dimenangi oleh individu yang pantas dan bijak merebutnya.

Setiap individu tidak seharusnya mempersiakan masa yang menjadi nadi kehidupan.  Masa mendatang adalah cabaran kepada kehidupan.  Kejayaan hanya dikecapi sekiranya dilakukan dengan bersungguh dan sanggup berkorban.  Tidak ada kejayaan datang dengan mudah.  Seperti kata pepatah, yang bulat tidak datang bergolek dan yang pipih tidak datang melayang.

Semua yang kita harapkan perlu diusahakan dengan bersungguh-sungguh.  Malah kita mesti sanggup berkorban jika inginkan kejayaan yang lebih gemilang. Pengorbanan itu dalam segi masa, tenaga, kewangan dan sebagainya.   

Setiap tahun berlalu kita merasakan umur semakin bertambah.  Hakikatnya yang bertambah hanyalah kiraan bilangan tahun telah kita hidup, sedangkan umur kita sebenarnya semakin berkurang.

Renungkan kata-kata Imam Hasan al-Bashri tentang apa yang ‘kurang’ terhadap diri kita setiap detik masa berlalu.  Katanya: “Hai anak cucu Adam, sesungguhnya engkau adalah kumpulan daripada hari-harimu.  Maka, setiap kali hari itu berlalu, maka berlalu juga sebahagianmu.”

Dengan kata lain, kita perlu fikirkan apa yang telah berkurangan dengan bertambahnya masa hidup yang telah ditempuh.  Jika kita lalai, maka masa itu berlalu begitu saja.  Masa tidak pernah meningatkan kita bahawa telah banyak masa dilepaskan pergi setiap masa. Kita tidak akan perasan masa telah berlalu melainkan setelah sedar apa yang gagal dilakukan pada masa lalu yang memberi kesan rugi kepada kita.

-------------------------------------------
Berusaha menjalankan kehidupan yang baik adalah pekerjaan yang tidak ada habisnya dan melelahkan.  Kita berusaha untuk mengurangi perbuatan-perbuatan kita yang tidak baik. Kita berjuang untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang baik. Hal itu memerlukan konsentrasi penuh dan semua tenaga kita.

Tuhan menciptakan manusia tanpa adanya kesalahan atau kelemahan. Adam dan Hawa, manusia yang pertama, sempurna dan lengkap. Mereka baik dan ingin melakukan apa yang benar kerana dasar kebaikan hidup dalam diri mereka. Mereka sama sekali tidak memiliki setitik kejahatan atau sifat buruk dalam diri mereka. Faktanya, al-Quran mengatakan, setelah Tuhan menciptakan manusia, Ia sendiri berkata bahwa ciptaan-Nya itu baik. Kebaikan memberi hidup dan arahan bagi manusia.

Mengapa kita tidak mengikuti perintah Allah? Sejak Adam, syaitan si musuh, telah berusaha untuk menghancurkan apa yang dibuat oleh Allah berkaitan penciptaan manusia.  Syaitan cuba Adam dan Hawa agar tidak menaati Allah, dan mereka jatuh ke dalam godaannya.

Mengapa manusia ingkar perintah Allah?  Ia berpunca apabila kejahatan masuk dan menguasai dalam diri mereka. Sejak itu, semua orang berdepan dengan kejahatan atau sifat buruk yang hidup dalam diri mereka. Perkara buruk itu bukan kelemahan ciptaan Allah.  Sebaliknya itulah sifat buruk pilihan yang ada pada manusia. 

Matinya kebaikan dalam diri manusia ketika mereka tidak menaati Tuhan. Kita mengerti apa itu kebaikan, tetapi kebaikan tidak mempunyai hidup dalam dirinya sendiri. Kenyataannya, kita harus mengeluarkan semua tenaga dan usaha untuk berbuat baik dan berusaha agar yang jahat tidak mendatangi kita. Ketika kita merasa lelah atau ada orang yang menghina kita, maka keburukan dalam diri kita mengalahkan kebaikan. Kebaikan memerlukan usaha kita untuk mewujudkan kebaikan itu sendiri.

Banyak orang menyarankan berbagai cara untuk menghidupkan kembali kebaikan dalam hidup kita. Ada yang mengatakan kuncinya adalah pengetahuan. Semakin kita mengajari orang, maka mereka akan semakin berubah menjadi lebih baik. Namun ternyata manusia menggunakan pengetahuan dan kecerdasan mereka untuk bertindak sesuka hati mereka atau memanipulasi orang lain. Pengetahuan tidak menghidupkan kebaikan.

Yang lainnya mengatakan, kuncinya adalah disiplin. Jika kita lebih berdisiplin dalam hidup kita – dalam pikiran, kebiasaan, berdisiplin dalam berolahraga dan sebagainya – kita akan menjadi lebih baik dan lebih banyak melakukan kebaikan. Namun orang-orang yang sangat dekat dengan kita mengetahui seperti apa sesungguhnya diri kita. Melalui disiplin kita dapat menciptakan sebuah dunia dalam pikiran kita, tapi kita masih hidup dalam dunia ini.

Ada yang mengatakan, undang-undang adalah pilihan terbaik untuk mencapai kebaikan. Jika kita mempunyai peraturan yang dapat mengatur tingkah-laku kita, terutama sikap moral kita, maka kita akan menjadi orang-orang dan warga negara yang lebih baik. Namun peraturan yang lebih banyak akan mengakibatkan penindasan dan bukannya keinginan untuk melakukan yang baik. Secara semulajadi manusiawi kita berusaha untuk mengatasi undang-undang dengan mencari-cari alasan untuk tingkah-laku kita dan membenarkan tindakan-tindakan kita.  Undang-undang nyata belum tentu dapat menghidupkan kebaikan dalam diri kita.

Maka sesungguhnya, yang terbaik untuk mendidik manusia melakukan perkara baik dan menjauhkan perkara buruk adalah agama.  Agama Islam terbaik pada segenap segi untuk sekalian manusia pada bila-bila masa dan di mana-mana tempat.  Islam itu sempurna lagi menyempurnakan. 

Namun, cabarannya tetap ada.  Biarpun agama itu panduan terbaik untuk manusia, tetap juga orang tidak manu mengikuti sepenuhnya ajaran agama.  Ini kerana godaan syaitan dan kejahilan agama. 

Berusahalah untuk melakukan kebaikan pada sebilang masa dan bukan hanya untuk peristiwa atau perbuatan tertentu saja.  Janganlah kita berpuas diri saja dengan upaya-upaya kita untuk menjadi baik pada waktu-waktu tertentu.  Contohnya, orang akan berubah menjadi baik pada Ramadan, tetapi kembali melakukan perkara ditegah apabila berada pada bulan-bulan lain.

---------------------------------------

No comments:

Post a Comment